Kamis, 07 Mei 2009

Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th


Karya Allah bagi Keselamatan Kita

Karya Allah bagi  Keselamatan Kita.jpg
Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th
KESELAMATAN dibutuhkan setiap manusia karena semua manusia sudah melakukan dosa (Rm.3:23-24). Keselamatan yang dimaksudkan di sini adalah keselamatan yang ber-sifat rohaniah. Selamat berarti tidak mengalami penyiksaan kekal atau kebinasaan di neraka sebagai huku-man atas dosa. Keselamatan yang demikian tidak dapat dikerjakan oleh manusia sendiri, melainkan membutuhkan pihak lain yang sanggup melakukannya, dalam hal ini Allah. Hanya Allah yang dapat berkarya bagi keselamatan manusia. Berbagai karya Allah tersebut terca-tat dalam Alkitab, dan dapat kita ditelusuri.
Secara umum, karya Allah bagi keselamatan manusia dapat dibagi dalam lima tahap:
(1) meng-adakan penyelamatan;
(2) meng-insyafkan pelanggaran;
(3) mendo-rong pengakuan;
(4) mengerjakan pembaharuan; dan
(5) memate-raikan pengakuan.

Pertama, Allah mengadakan penyelamatan melalui diri Anak-Nya Yesus Kristus. Manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Manusia memang sudah mengusahakan berbagai hal dan menggunakan berbagai cara, yang pada awalnya mereka anggap dapat menyelamat-kan mereka. Namun, sampai sejauh ini, tidak satu pun cara itu yang dapat membawa manusia kepada keselamatan, malahan justru dapat membuat mereka semakin jauh dari keselamatan. Salah satu cara yang dimaksud adalah ritualisme ke-agamaan (agama). Manusia di sepanjang masa pada awalnya berprasangka bahwa agama dapat menyelamatkan, namun ternyata tidak. Agama memang dibutuhkan oleh manusia, namun bukan seba-gai jalan keselamatan melainkan hanya sebagai penuntun hidup bermoral.
Ketidakmampuan manusia menyelamatkan dirinya membuat Allah berpikir keras untuk meno-long. Yohanes 3:16-17 berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Ungkapan ‘Ia mengaruniakan’ menunjuk kepada kebaikan Allah. Maksudnya, Allah mengadakan penyelamatan secara sengaja dan tanpa pamrih. Hal ini didorong oleh kasih-Nya yang sangat besar.

Besarnya kasih Allah dilatar-belakangi oleh karena manusia adalah ciptaan Allah. Disebut sebagai ‘Anak-Nya yang tung-gal’ adalah untuk menegaskan bahwa jumlah dan bentuk dari Juruselamat tersebut adalah ‘satu’ atau ‘esa’. Artinya, Juru-selamat manusia yang disedia-kan Allah itu tidak lebih dari satu (hanya satu adanya), tidak bersifat kembar, juga tidak ada yang mirip dengan-Nya. Anak Allah yang ditentukan-Nya un-tuk menyelamatkan manusia itu datang menjadi manusia. Adalah Yusuf dan Maria yang dipilih-Nya untuk melahirkan-Nya. Awalnya, karena kebingungan melihat Maria mengandung bukan dari benihnya, Yusuf hendak men-ceraikannya diam-diam. “Tetapi ketika ia mempertimbangkan mak-sud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut meng-ambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan me-lahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, ka-rena Dialah yang akan menye-lamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:20-21).

Yesus Kristus, untuk menyela-matkan manusia dari dosa mereka, harus mati di kayu salib. Sebelum mati, Ia hidup sebagai manusia biasa. Ia yang sangat giat meng-adakan pelayanan bagi sebanyak-banyak orang, dengan cara meng-ajarkan kebenaran, menegakkan keadilan, mengadakan penyembu-han, dan mengadakan banyak mukjizat. Hingga kira-kira berumur 33 ½ tahun, Ia pun disalibkan.
Perlu diketahui bahwa masa itu, seseorang yang disalibkan adalah seorang yang dianggap terkutuk. Darah-Nya tercurah dan Ia mati mengenaskan setelah disiksa dan dipermalukan. Semua pihak yang berkedudukan tinggi dan berwenang menginterogasi dan mengadili-Nya, hanya untuk mencari kesalahan-Nya. Bahkan saksi-saksi palsu pun sudah didatangkan. Namun, tidak satu pun dari tuduhan atau dakwaan dapat menjerat-Nya. Sehingga, kematian-Nya pun terjadi bukan karena Ia bersalah tetapi karena dipaksa untuk disiksa oleh orang-orang Yahudi yang tidak memahami siapa diri-Nya. Namun Yesus Kristus tidak pernah mengeluh atas hal itu karena Ia tahu bahwa untuk itulah Ia datang ke dunia ini. Kematian tersebut adalah kematian karena dosa-dosa umat manusia; dosa manusialah yang ditanggung-Nya.

Kedua, Allah menginsyafkan manusia atas segala pelanggaran mereka. Manusia yang sudah hidup dalam dosa atau terbiasa melakukan dosa sudah sering lupa akan keberadaan dosanya. Untuk itu dibutuhkan suatu pribadi yang dapat mengingatkan atau meng-insyafkan mereka. Siapakah pihak yang dapat melakukan hal itu? Tentunya bukanlah diri manusia itu sendiri. Karena, bagaimana mungkin seseorang yang melaku-kan dosa menginsyafkan dirinya sendiri akan dosa yang diperbuat-nya? Hal itu tidak mungkin terjadi.

Selanjutnya, ada yang meng-anggap bahwa tugas ini dapat dilakukan oleh hati nurani. Pada mulanya hati nurani me-mang sesuatu yang berfungsi untuk menginsyafkan manusia dari dosa mereka. Namun, fungsi hati nurani ini sudah semakin rendah kualitasnya karena berbagai pengalaman pahit, kebodohan, dan kebe-balan manusia itu sendiri. Kini, hati nurani tidak dapat lagi dija-dikan sebagai penasihat atau penginsyaf bagi manusia atas dosa-dosa mereka. Ada juga pihak yang mengandalkan ma-nusia lain atau sesamanya untuk menginsyafkan dirinya akan dosa-dosanya. Hal ini pun akan sama tidak berhasilnya karena peringatan seseorang terhadap orang lain bersifat tidak lengkap dan tidak stabil. Penilaian sese-orang terhadap orang lain juga dapat berlebihan (bias) dan kabur (absurd). Contoh: Anda dapat me-ngatakan bahwa saya salah dan menegur saya akan kesalahan tersebut, namun belum tentu saya mau mendengarnya karena saya tidak menyukai Anda, karena tidak mengenal Anda, atau karena Anda bukan seorang figur yang baik bagi saya, bukan? Sebaliknya, Anda dapat menegur saya secara salah atau tidak tepat karena Anda hanya berusaha untuk menyenangkan hati saya.
Berbeda dengan beberapa hal di atas (yang dapat gagal menginsyafkan manusia akan dosa-dosa mereka), Roh Kudus adalah suatu Pribadi yang mau dan mam-pu menginsyafkan manusia akan dosa-dosa mereka. Yesus Kristus berkata dalam Yohanes 16: 8-11, “Kalau Ia datang, Ia akan meng-insafkan dunia akan dosa, kebe-naran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebe-naran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” Roh Kudus senantiasa menginsyaf-kan manusia dari dosa-dosa me-reka. Penginsyafan yang dilakukan Roh Kudus sulit dilawan atau ditolak oleh manusia berdosa karena penginsyafan itu dilakukan-Nya dengan lembut dan berhikmat. Dengan adanya Roh Kudus yang menginsyafkannya, maka semakin terbuka kesempatan bagi mereka untuk mengakuinya.

Manusia memiliki kemampuan untuk mengakui dosa dan harus mereka yang melakukannya. Na-mun, kemampuan ini tidak akan bekerja secara efektif apabila me-reka tidak terlebih dahulu diinsyaf-kan oleh Roh Kudus. Setelah ma-nusia diinsyafkan, barulah manusia dapat mengakui dosanya sehingga mereka akhirnya menerima peng-ampunan, seperti pesan Surat I Yohanes 1:8-9: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Pembahasan ini akan saya lanjutkan pada artikel selanjutnya.v


* Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM), Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar